Muscab ke-9 Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo Berjalan Dinamis

Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo melaksanakan agenda 5 tahunan, Musyawarah Cabang (Muscab) ke-9, bersamaan dengan Musyawarah Cabang ‘Aisyiyah Wonokromo ke-12.

Mengambil tema “Membumikan Islam Berkemajuan, Memajukan Wonokromo”, dengan harapan Muhammadiyah Wonokromo lebih baik. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula SMA Muhammadiyah 3 Gadung Surabaya, yang dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Surabaya pada Sabtu, (13/05).

“Alhamdulillah, Kita bersyukur kepada Allah Swt, kegembiraan terlihat pada musycab kali ini. Musyawarah Cabang Muhammadiyah ke 9 bersamaan dengan Musyawarah Cabang ‘Aisyiyah ke 12, semoga berjalan lancar sukses, tidak ada halangan dan Wonokromo kedepan jadi lebih baik,” tutur Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya M Jemadi MA.

“Dalam musypimcab, saya yang ditugasi oleh PDM Kota Surabaya dan musycab kali ini juga kembali ditugaskan untuk menghadiri dan membuka acara,” imbuhnya.

Jemadi menjelaskan langkah Muhammadiyah, dalam musycab kali ini, secara singkat dia mengingat tentang bagaimana berMuhammadiyah. Paling tidak ada 5 hal.

“Pertama, kami sampaikan permohonan maaf dari Ketua PDM Kota Surabaya, Bapak Dr. H. Ridwan, M.Pd belum bisa hadir, karena mendapatkan tugas untuk hadir di Musyawarah Cabang Muhammadiyah Pabean Cantian, sedangkan Musyawarah Cabang Wonokromo ditugaskan kepada saya dan Bapak Luthfi,” katanya.

Baca juga  Pelajar Surabaya Raih Juara 1 International Young Eco-Hero Award 2026

Kedua, menyikapi dinamika yang ada di Musyawarah Cabang Muhammadiyah Wonokromo ke-9 ini, pihaknya tidak akan membela PCM dan PRM, tetapi berpegang teguh kepada aturan persyarikatan Muhammadiyah yang ada di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Ketiga, tugas PDM adalah mengayomi semua, baik Pimpinan Cabang, Pimpinan Ranting, Ortom tingkat cabang, supaya bisa bersama-sama menjaga dan merawat persyarikatan Muhammadiyah kedepan lebih baik, khususnya di Wonokromo.

“Kami ingatkan firman Allah SWT dalam Surat Al-Hujarat ayat 10;نَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ artinya ‘Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat’. Semua adalah bersaudara, termasuk Pimpinan cabang, ranting, ortom semua bersaudara, maka perbaiki hubungan, ketika ada salah persepsi yang berbeda, beda pandangan tetapi harus dikomunikasikan dengan baik,” ungkapnya.

Baca juga  Kejar Target Rp43 Triliun, Pemkot Perkuat Investasi Lewat Inovasi Digital

Menurutnya hal ini supaya tidak terjadi fitnah yang mengakibatkan bercerai berai, tidak dalam satu barisan yang kuat.

“Memalukan kalau musycab kali ini sampai deadlock, maka harus ada diskusi yang produktif untuk kepentingan bersama, yaitu persyarikatan Muhammadiyah,” jelasnya.

Keempat, Meneguhkan Identitas Muhammadiyah yang harus difahami bersama. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam. Misi menegakkan agama Islam harus dipegang oleh semua Pimpinan, Kader dan Warga Muhammadiyah, termasuk dalam forum musycab ini.

“Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adalah maksud dan tujuan Muhammadiyah,” kata Jemadi.

Muhammadiyah adalah Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Dakwah ini adalah kewajiban kita bersama, yang harus selalu digerakkan di manapun dan kapanpun. Dakwah itu merangkul, bukan mendengkul, ataupun memukul, karena manusia tidak ada yang sempurna, pasti ada yang salah, tugas kita saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Muhammadiyah adalah Gerakan Tajdid. Purifikasi ajaran agama Islam, mengembalikan ajaran agama sesuai dengan tuntunannya. Sedangkan Dinamisasi, Muhammadiyah selalu menggunakan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari cara memahami ajaran agama, menyesuaikan perkembangan zaman.

Baca juga  Disdukcapil Surabaya Siapkan Sistem Informasi Pelaporan Data Penghuni Kos

“Kelima, mari bersama meneladani tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam memahami dan menjalankan agama Islam. Kisah Buya Hamka, walau didzolimi rezim Orde Lama, beliau tetap ikhlas menjadi imam shalat jenazah bung Karno. Beliau juga memaafkan Muhammad Yamin, selain menjadi imam shalat jenazah juga mengantar sampai ke makam. Bahkan, beliau dengan ikhlas mengajari agama Islam kepada putri Pramoedya Ananta Toer,” sambungnya.

“Kisah beliau dengan Mensos dimasa bung Karno yang juga kader Muhammadiyah, harus bisa diwujudkan di musycab kali ini. Sekalipun Buya Hamka sering mengkritik pak Mentri, ternyata mereka saling memaafkan dan berangkulan pada acara Muhammadiyah. Kisah Buya Hamka menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya bagi kita Pimpinan, Kader dan Warga Muhammadiyah, yaitu berjiwa besar, teguh pendirian, saling menghormati dan menghargai, dan sikap pemaaf, saling memaafkan diantara kita, sebagai bagian dari ciri orang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT,” pungkas Jemadi. Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *