Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.966 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6) sore. Mata uang Garuda melemah 128 poin atau 0,71 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,14 persen, peso Filipina melemah 0,12 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,79 persen, dolar Singapura turun 0,18 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,92 persen.
Hanya sejumlah kecil mata uang Asia yang mampu menguat terhadap dolar AS, di antaranya Yen Jepang naik 0,14 persen, sementara dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen.
Tekanan terhadap dolar AS juga terjadi di kelompok mata uang negara maju. Euro Eropa turun 0,17 persen, poundsterling Inggris melemah 0,12 persen, dolar Australia terkoreksi 0,25 persen, dolar Kanada turun 0,14 persen, dan franc Swiss melemah 0,27 persen.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Ia menjelaskan pasar juga mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih diliputi ketidakpastian.
Di saat bersamaan, data ekonomi Amerika Serikat yang relatif solid memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai sentimen terhadap rupiah turut terbebani oleh inflasi Mei 2026 yang meningkat menjadi 3,08 persen secara tahunan. Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April juga menyempit dibandingkan periode sebelumnya.
“Kalau di lihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat selat hormuz di blokade oleh pasukan garda revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali,” ujarnya. Bg












