Pemkot Surabaya Tegaskan Larangan Pungutan Perpisahan SD-SMP Negeri

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menegaskan larangan pungutan, yang membebani orang tua murid, dalam penyelenggaraan kegiatan perpisahan siswa SD dan SMP negeri. Penegasan ini menyusul pengaduan melalui Hotline Lapor Cak Eri, mengenai dugaan permintaan iuran Rp300.000 kepada wali murid SDN Manukan Wetan IV, untuk kegiatan tasyakuran perpisahan dan pembelian batik bagi guru.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menginstruksikan, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, untuk mendatangi sekolah tersebut.

“Saya sudah menginstruksikan Kepala Dispendik Surabaya, Bu Febri, untuk mendatangi SDN Manukan Wetan IV. Ada laporan bahwa orang tua atau wali murid diminta iuran, untuk membeli batik bagi guru-guru saat acara perpisahan,” kata Wali Kota Eri, Jumat (30/10).

Ia meminta seluruh kepala sekolah SD dan SMP negeri di Surabaya, tidak menggelar acara perpisahan secara berlebihan, terutama jika kegiatan tersebut berpotensi membebani orang tua murid. Menurutnya, perayaan kelulusan cukup dilaksanakan secara sederhana, melalui tasyakuran di sekolah. “Jika ingin mengadakan kegiatan, cukup dengan tasyakuran sederhana, seperti makan tumpeng bersama di sekolah, tanpa memberatkan orang tua murid,” ujar dia.

Baca juga  Progres Rumah Pompa Capai 90 Persen, Pemkot Targetkan Selesai November

Wali Kota Eri menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh kemeriahan acara perpisahan, melainkan manfaat ilmu yang diperoleh siswa selama menempuh pendidikan. “Hal yang paling penting ketika anak-anak lulus, adalah ilmu yang mereka peroleh bisa bermanfaat, bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, bukan perayaannya,” katanya.

Selain mengingatkan soal pungutan, Wali Kota Eri meminta para orang tua murid, menjaga hubungan baik dan menghormati perbedaan pendapat dalam kegiatan sekolah. Ia mengingatkan agar perbedaan pandangan, tidak berkembang menjadi perundungan, maupun intimidasi.

“Saya juga memohon kepada para orang tua. Jika ada sesama orang tua yang tidak sependapat dengan ide, atau usulan anda, jangan sampai melakukan perundungan, atau saling menyindir di grup WhatsApp, apalagi sampai menjadikan siswa sebagai korban,” tegasnya.

Ia berharap orang tua lebih mengutamakan pendampingan, terhadap proses belajar anak daripada mempermasalahkan, kegiatan seremonial kelulusan. “Cukup doakan anak-anak, dampingi mereka agar terus semangat belajar. Insyaa Allah, anak-anak tersebut akan selalu membahagiakan anda,” imbuhnya.

Baca juga  Posbankum Hadir di 153 Kelurahan Surabaya

Sementara itu, Kepala Dispendik Kota Surabaya Febrina Kusumawati menyatakan, telah menegur Kepala SDN Manukan Wetan IV, sekaligus meluruskan persoalan tersebut. Ia menegaskan, sekolah harus mengutamakan pelayanan kepada peserta didik dan tidak membebani orang tua, dengan pungutan yang tidak jelas.

“Sudah saya luruskan, sudah saya sampaikan dan saya tegur kepala sekolahnya. Sudah tidak pakai seperti itu, bagaimana caranya kita benar-benar bisa menjadi pelayan sekolahannya, arek-arek Suroboyo,” ujar Febri, panggilan lekatnya.

Menurut Febri, setiap laporan, saran, maupun kritik dari masyarakat harus diterima dan ditindaklanjuti. Ia juga meminta kepala sekolah lebih aktif memantau komunikasi, antara wali kelas dan orang tua murid, termasuk melalui grup WhatsApp.

“Kalau ada orang tua murid mengadukan, menyarankan, mengkritik, jangan ditolak. Orang-orang itu mungkin karena ditolak akhirnya lari (laporan) ke atas, termasuk ke hotline-nya Pak Wali Kota,” tegas dia.

Selain itu, Febri juga meminta seluruh kepala SD dan SMP negeri, memastikan tidak ada pungutan yang tidak transparan, termasuk iuran untuk kebutuhan kegiatan sekolah, maupun pembelian perlengkapan guru. “Saya mau pastikan benar bahwa tidak ada yang namanya urunan-urunan, atau pungutan yang sifatnya tidak clear,” jelas dia.

Baca juga  Wali Kota Perankan Kolonel Sungkono di Parade Surabaya Juang 2026

Selain itu, ia turut meminta seluruh kepala sekolah mengevaluasi kondisi fasilitas dan lingkungan satuan pendidikan. Jika ditemukan kerusakan yang dapat ditangani melalui Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), perbaikan diminta segera dilakukan sesuai ketentuan. “Saya minta tolong semua kepala sekolah negeri, SD dan swasta, ayo cek kembali semuanya. Semua fasad harus baik,” ujar Febri.

Febri berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi, bagi seluruh SD-SMP di Surabaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Termasuk dalam keterbukaan komunikasi, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi siswa.

“Sekali lagi (saya) minta maaf, mari semuanya berubah. Bapak-Ibu kepala sekolah, lakukan yang terbaik untuk menjadi pelayan, menjadi pendidik anak-anak di Kota Surabaya, agar semakin luar biasa,” pungkasnya. (yunus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *