Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) meresmikan Gerakan Seribu Siswa Sahabat Tangguh Bencana di Gedung Pusat Robotika ITS.
Program ini memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana kepada 1.000 siswa dari jenjang SD hingga SMA di wilayah Gerbangkertosusilo yang meliputi Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan.
Mewakili Gubernur Jawa Timur, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono menekankan pentingnya kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko bencana.
“Ketika kesiapsiagaan mitigasinya kuat, 70 persen risiko dapat berkurang saat tanggap darurat,” ujarnya, Jumat (30/10).
Adhy menambahkan kesiapsiagaan perlu dimulai dari kemampuan individu mengenali potensi bahaya dan melakukan penyelamatan diri.
“Pada kesempatan pertama, jangan berharap langsung ada yang menolong, kita harus menolong diri sendiri dulu,” katanya.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITS Nurul Widiastuti menyampaikan pentingnya membekali pelajar dengan pengetahuan kebencanaan agar menjadi duta di lingkungan masing-masing.
“Ingat tiga kunci utama: kenali, siapkan, dan lakukan,” pesannya.
Ketua Pusat Studi MKPI ITS Hepi Hapsari Handayani menjelaskan Indonesia termasuk Jawa Timur memiliki beragam potensi bencana yang perlu dikenali sejak dini.
“Detik-detik awal sangat berharga sebelum tim penyelamat seperti BPBD atau SAR datang,” jelasnya.
Kegiatan dikemas melalui edukasi interaktif, simulasi Virtual Reality (VR), serta Education Booth. Selain itu, siswa SD memperoleh simulasi pemadaman api bersama Dinas Pemadam Kebakaran, sedangkan siswa SMP dan SMA mengikuti pelatihan keselamatan diri, pertolongan pertama, serta prosedur evakuasi bersama Fakultas Kedokteran dan Kesehatan ITS dan BPBD Jawa Timur.
Wakil Ketua Pusat Studi MKPI ITS Berlian Al-Kindhi mengatakan pendekatan tersebut dirancang agar pelajar dapat menerapkan pengetahuan kebencanaan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi agen edukasi di sekolah dan keluarga. Bg






