Benarkah Haji & Umrah Panggilan Allah?

Bismillah…
Saudaraku, suatu saat kita merasa kagum ketika melihat atau membaca berita tentang berjuangan seorang nenek pemulung yang bisa naik haji meski harus nabung selama 25 tahun. Nenek pemulung itu bernama Salkah (75) warga Desa Kecamatan Pucuk, Lamongan. Ia rela menabung selama 25 tahun untuk mewujudkan impiannya menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

Dalam keseharian, sang nenek mengais rezeki sebagai pemulung di pasar Pucuk. Tahun 2019 kemarin dia naik haji dengan kloter penerbangan 78.

Ada lagi kisah bocah kecil yang nabung uang saku sekolahnya selama dua tahun hanya karena ingin umrah ke tanah suci. Dia adalah Surya Adil Sutrisno (8), yang akrab disapa Aria. Dia lebih memilih menabung uang saku sekolahnya daripada untuk jajan.

Cerita Makkah dan Madinah ketika orangtuanya pergi haji beberapa tahun sebelumnya melipatgandakan niatnya untuk ke tanah suci. Untuk mewujudkannya, siswa kelas dua MIN 1 Surabaya (setingkat SD) minta dibelikan kaleng celengan . Setelah itu Aria mulai rajin menabung. Selama dua tahun menabung, tiga buah kaleng celengannya penuh.

PENGHAPUS KEMISKINAN
Saudaraku, semua yang melihat dan membaca pengalaman haji nenek Salkah dan umrah adik Aria tentu berharap bisa mengikuti jejak mereka. Karena sebenarnya selain kita semua merindukan baitullah, pahala dan fadhilah umrah dan haji itu luar biasa. Bahkan biaya yang kita keluarkan akan diganti oleh Allah dengan rezeki yang berlimpah. Dan kita dijauhkan dari kemiskinan. Sebagaimana sabda Rasulullah:
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR Thirmidzi)

PANGGILAN ALLAH
Ada yang mengatakan bahwa haji atau umrah itu panggilan Allah. Meskipun banyak uang kalau belum dipanggil, maka tidak akan bisa berangkat. Benarkah?

Bukankah azan juga panggilan Allah untuk shalat? Apakah yang tidak ke masjid itu karena masih belum dipanggil oleh Allah?

Saudaraku, haji dan umrah memang panggilan Allah. Tapi kalau kita tidak merencanakan dan menyambut panggilan tersebut, tentu kita tidak akan bisa memenuhinya.

Hanya berharap dan berkeinginan bisa haji dan umrah saja belum cukup. Harus diikuti dengan action atau langkah nyata. Tanpa langkah nyata, mustahil kita bisa mengikuti jejak mereka. Langkah nyata yang harus dilakukan, pertama adalah menata niat. Sebelum melakukan apapun, pastikan niat dalam hati sudah cukup kuat, sehingga kesadaran diri untuk melakukan niat tersebut terus mendorong hati untuk benar-benar menepatinya.
Tidak heran jika Nabi Muhammad berpesan agar apapun yang diamalkan sangat ideal jika didahului dengan niat.

“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafsh ‘Umar bin Al Khaththab, dia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”( HR Bukhari Muslim)

Kedua, setelah niat kuat maka lakukan action. Kalau memiliki dana untuk haji dan umrah maka segera daftar. Paling tidak dengan daftar maka kita sudah merintis jalan. Kalau belum ada dana segera membuat rencana menabung dalam rangka merealisasikan niat tersebut. Allah dan Rasul-Nya juga memerintahkan umat Islam untuk bersegera dalam kebaikan.

Kalau sudah ada niat, perencanaan matang dan target yang sudah disusun rapi, maka keinginan untuk haji atau umrah pasti akan terlaksana.
Saudaraku, kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Artinya, hari yang tidak diatur oleh seorang Muslim tidak akan menjadi ladang kebaikan yang maksimal.

JANGAN DITUNDA
Saudaraku, kalau memiliki keinginan haji dan umrah, jangan ditunda. Segera realisasikan dengan tindakan nyata. Karena amalan terbaik adalah amalan yang dilakukan pada saat kita masih sehat.
Suatu ketika ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Lalu, beliau menjawab, “Bersedekah selama kamu masih sehat, bakhil (suka harta), takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda, sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata, “Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian’, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Jadi amal kebaikan, apakah itu haji, umrah atau sedelah yang dilakukan saat kita sehat, lebih utama kedudukannya dibandingkan pada saat kita sakit apalagi saat nyawa sudah di tenggorakan.
Ingin haji dan umrah, segera lakukan niat, perencanaan yang matang sebelum kesempatan, kesehatan dan nyawa kita diambil sang pencipta.
Saudaraku, percayalah Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh sungguh maka akan tercapai keinginannya.
Semoga bermanfaat….

(Nur Cahya Hadi, Direktur Majalah Nurani Indonesia dan TL Mina Wisata Islami Travel Haji & Umrah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *