Press "Enter" to skip to content

Kisah Julaibib, yang Diperebutkan Bidadari Surga

Oleh:
Drs H Nur Cahya Hadi, Direktur Majalah Nurani Indonesia

Bismillah…
Saudaraku, ada sebuah hadits Nabi SAW yang mengingatkan kita agar tidak memandang sebelah mata siapapun. Karena bisa jadi yang remehkan itu lebih baik dan lebih mulia di hadapan Allah. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).


Hadits ini sejalan dengan salah satu firman Allah dalam Alquran yang artinya, “Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu”. (QS Al-Hujurat: 13)

DIPANDANG RENDAH
Ada satu kisah sahabat Nabi yang begitu menyentuh hati karena memilih berjihad bersama Rasulullah SAW, daripada kenikmatan dunia. Allah pun menjadikannya syahid dan menjadi rebutan para bidadari surga. Apa amalannya sehingga dia diperebutkan bidadari di surga?
Namanya julaibib, begitulah ia dipanggil. Namanya menunjukkan kalau ciri fisiknya yang kerdil dan pendek. Nama Julaibib merupakan nama yang tak biasa dan tidak lengkap. Nama ini bukan ia sendiri yang menghendaki, bukan pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan ibunya.


Demikian pula orang-orang, semua tidak tahu, atau tidak mau tahu tentang nasab Julaibib. Bagi masyarakat Yatsrib (Madinah), tidak bernasab dan tidak bersuku merupakan aib yang besar.
Tampilan fisik dan keseharian Julaibib yang lusuh menjadi alasan orang lain tidak mau dekat-dekat dengannya. Wajahnya terkesan sangar, pendek, bungkuk, hitam, dan fakir. Kainnya usang, pakaiannya lusuh, kakinya pecah-pecah tidak beralas.


Tidak ada rumah untuk berteduh, tidur hanya berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tidak ada perabotan, minum hanya dari kolam umum yang diambil dengan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!” demikianlah keadaan Julaibib kala itu.

DISURUH MENIKAH
Namun, Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tidak satu makhluk pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia berada di barisan terdepan dalam salat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, namun tidak demikian dengan Rasulullah SAW, sang rahmat bagi semesta alam.

Baca juga  Jenazah Tsa'labah Dishalati Ribuan Malaikat, Apa Amalannya?


Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Rasulullah. “Julaibib…”, begitu lembut beliau SAW memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”


“Siapakah orangnya yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini Ya Rasulallah?” kata Julaibib tersenyum.


Tidak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah SAW juga tersenyum. Mungkin memang tidak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib.
Namun, hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah kembali menanyakan hal sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali, tiga hari berturut-turut.

GADIS SHALEHAH
Dan pada hari ketiga itulah, Rasulullah memegang lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah pemimpin Anshar. “Aku ingin menikahkan putri kalian,” kata Rasulullah pada si pemilik rumah.


“Betapa indahnya dan betapa berkahnya,” demikian respons pemilik rumah dengan wajah berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulullah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”


“Tetapi bukan untukku,” kata Rasulullah. “Ku pinang putri kalian untuk Julaibib,” tegas Rasulullah.
“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis.
“Ya. Untuk Julaibib.”


“Ya Rasulullah. Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini,” kata ayah sang gadis.
“Dengan Julaibib?”, istrinya menjawab, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lusuh, tidak bernasab, tidak berkabilah, tidak berpangkat, dan tidak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”.


Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Dari balik tirai sang putri berujar: “Siapa yang meminta?” Sang ayah dan sang ibunya pun menjelaskan.
“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. kata sang gadis.


Sang gadis shalehah itu lalu membaca ayat (yang artinya): “Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab: 36)

Baca juga  Ingin Badan Kita Haram Tersentuh Neraka? Inilah Amalannya.....

Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah itu. “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Jangan kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah,” demikian doa indah Rasulullah.

MATI SAHID
Maka benarlah doa Nabi SAW. Tak lama kemudian Allah karuniakan jalan keluar baginya. Kebersamaan di dunia ternyata tidak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya di Surga. Julaibib lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang tidak bersahabat padanya.


Saat syahid di medan perang, Rasulullah begitu kehilangan. Pada akhir pertempuran, Nabi SAW bertanya “Apakah kalian kehilangan seseorang?”
“Tidak Ya Rasulallah” serempak sahabat menjawab. Sepertinya Julaibib memang tidak berarti di kalangan mereka.


“Apakah kalian kehilangan seseorang?,” tanya Rasulullah kembali. Nabi SAW bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu. “Tidak Ya Rasulallah”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was, beberapa orang menengok ke kanan dan ke kiri.


Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib,” kata beliau. Para sahabat tersadar, “Carilah Julaibib!”


Maka Julaibib yang mulia pun ditemukan. Ia terbunuh dengan luka-luka di sekujur tubuh dan wajahnya. Di sekitar jasadnya, ada tujuh jasad musuh telah ia bunuh. Rasulullah dengan tangannya sendiri mengkafani Julaibib. Beliau mensalatkannya dan berdoa, “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.” kata Rasulullah. ( HR.muslim dan Ahmad)”

DIPEREBUTKAN BIDADARI
Rasulullah tertunduk di samping jasad Julaibib. Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti kembali menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau. Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.


” Wahai Rasulullah, mengapa engkau menanigis ketika melihat jasad Julaibib?


Jawab Rasulullah “Aku menangis karena mengingat Julaibib. Oo.. Julaibib, pagi tadi engkau datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam pertama, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”


“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
“Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Julaibib,” Jawab Rasulullah.

Baca juga  Ketika Suatu Saat Kita Dalam Kesendirian


“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.
“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Jdsulaibib, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulaibib. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya…”

BANYAK HIKMAH
Demikian Kisah Julaibib yang akhir hayatnya berakhir syahid ketika membantu Rasulullah SAW dan para sahabat. Pilihannya berjihad dan merindukan syahid mendapat ganjaran indah dari Allah SWT. Rupa memang tidak seelok para bangsawan, harta tak sebanyak yang dimiliki para raja, namun bidadari surga berebut menginginkan sosok Julaibib.
Hikmah yang bisa diambil dari kisah ini adalah:

  1. Ketika Allah dan Rasulnya memutuskan suatu hukum, pasti itu akan membawa kebaikan bagi kita semua. Karena itu tidak ada jawaban yang tepat dalam menyikapi perintah Allah dan Rasulnya, kecuali hanya samikna wa atokna ( saya mendengar dan saya taat). Sebagaimana wanita shalihah yang dijodohkan oleh Rasulullah dalam kisah di atas. Dan perintah jihad yang langsung disambut Julaibib meski saat itu dia sedang menikmati malam pertama sebagai seorang pengantin.
  2. Ternyata, ketampanan, kekayaan, nasab, jabatan selama hidup di dunia tidak diperhitungkan sama sekali oleh Allah. Ketaqwaan, akhlak dan amal Sholeh merupakan harta paling berharga di sisi Allah. Sebab kekayaan, rupa maupun kedudukan di dunia akan lenyap begitu ajal datang menghampiri pemiliknya.
  3. Hikmah ketiga adalah janganlah kita merasa lebih baik dari orang lain, karena bisa jadi dia yang kita remehkan dan kita rendahkan itu posisinya lebih baik di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran:
    “….Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.’ (QS An Najm 32).
    Semoga bermanfaat…

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *