Bismillah….
Saudaraku, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah bersabda “Sembuhkan sakitmu dengan sedekah.”
Itu artinya, meski tidak ada hubungan secara medis, sesungguhnya karena kasih sayang dan kehendak Allah maka sedekah itu mampu sebagai salah satu ikhtiar untuk menyembuhkan sakit. Dan itu banyak yang sudah merasakan dan membuktikannya.
SEDEKAH SAAT SEHAT
Meski demikian, sedekah yang paling utama menurut Rasulullah adalah sedekah saat kita sehat dan sedang dalam kondisi sulit. Sebagaimana sabda Rasulullah dari
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab:
« أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ » .
“Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan, “Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian.” Padahal telah menjadi milik si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis di atas dapatlah disimpulkan bahwa Allah lebih menyukai hambanya yang sedekah pada saat sehat, bukan pada saat sakit atau bahkan saat syakaratul maut.
SEDEKAH SAAT SULIT
Sedekah yang utama lainnya adalah sedekah saat sulit dimana kondisi kita juga sedang kekurangan dan takut miskin. Bahkan pernah ada seorang sahabat yang menjamu tamu Rasulullah, padahal dia, istri dan anak-anaknya juga belum makan. Dialah Sabahat Anshor Abu Thalhah Zaid bin Sahl Al-Anshari. Luar biasa dermawannya. Meski dirinya, istri dan anaknya membutuhkan makanan, tetapi dia lebih memilih bersekah kepada tamu Rasulullah.
Pada keesokan harinya, ketika Abu Thalhah bertemu Nabi Muhammad, beliau menyampaikan “Wahai zaid, Allah sangatlah bangga dan ridla dengan apa yang telah kamu lakukan semalam”. Kisah Abu Thalhah Zaid Al-Anshari ini kemudian menjadi sebab turunnya ayat Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9 yang berbunyi;
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٩)
Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”
Luar biasa, dalam kondisi seperti sekarang ini, di mana banyak orang tidak bisa makan karena meluarnya wabah Covid 19, tidak dapat pekerjaan dan penghasilan, di PHK dari tempat kerja, penghasilan jauh berkurang, tentu menjadi saat yang paling tepat untuk saling membantu dengan banyak bersedekah. Sedekah tidak akan membuat kita miskin, dan kikir juga tidak akan menjamin kita menjadi kaya. Itu janji Allah. Mari bersedekah di saat kita sehat dan sedang dalam kesulitan, semoga Allah memudahkan segala urusan kita.
Wallahu A’lamu Bis Showab. ( Nur Cahya Hadi, Direktur Majalah Nurani Indonesia)












