Kementerian Agama (Kemenag) mengantisipasi adanya jemaah haji mengalami demensia ketika berada di tanah suci.
Kasi PHU (Penyelenggaraan Haji dan Umrah) Kemenag Kabupaten Mojokerto, M Zainut Tamam menghimbau jemaah haji melakukan tiga hal. Pertama, sebelum berangkat ke tanah suci, jemaah haji harus banyak istirahat. Kedua, jangan takut makan dan minum bila sudah waktunya.
“Sudah ada pedoman untuk makan minum itu. Karena demensia itu bisa saja karena jemaah haji haus atau karena jemaah lapar. Kadang-kadang di pesawat jemaah takut untuk makan atau minum, takut pipis (buang air kecil) dan sebagainya. Maka iya (makan minum tepat waktu) itu salah satu edukasi,” ujarnya kepada majalahnurani.com, Rabu (7/6/2023).

Ketiga, bagi jemaah haji yang termasuk kategori lansia. Maka sering-seringlah berbicara dengan jemaah lain.
“Jemaah haji yang sepuh (lanjut usia) itu harus sering diajak ngobrol. Jadi intinya jemaah tidak ada yang mengajak ngobrol itu kadang-kadang menjadi stres gitu. Iya sudah ada itu panduan-panduan untuk petugas haji,” tegasnya.
Belakangan tidak sedikit jemaah haji Indonesia yang mengalami demensia ketika berada di tanah suci. Ada jemaah haji yang ingin pulang, dan sebagainya.
Dikutip dari website sehatnegeriku.kemkes.go.id, penyakit demensia ini rentan dialami jemaah haji lanjut usia (lansia).
Fenomena demensia ini dialami sejumlah jemaah haji Lansia setelah tiba di Madinah.
Kabid Kesehatan PPIH Arab Saudi dr. M. Imran mengatakan terkait dengan jemaah haji Lansia yang mengalami disorientasi seperti kasus jemaah haji minta pulang saat di pesawat, kemudian ada beberapa kasus jemaah haji yang sudah tiba di Tanah Suci masih menganggap berada di kampungnya, biasanya terjadi karena demensia.
Demensia biasanya diikuti dengan gangguan cara berpikir, seperti disorientasi tempat, disorientasi waktu, dan disorientasi orang-orang di sekitarnya. Gejala-gejala yang bisa terlihat di awal biasanya seperti mudah lupa, terutama untuk kejadian-kejadian yang baru saja dialami, kemudian sulit mempelajari hal baru, sulit konsentrasi, termasuk sulit mengingat waktu dan tempat, terutama setelah mereka berpindah dari kampungnya ke embarkasi atau ke Tanah Suci.
“Demensia ini merupakan fenomena jemaah haji Indonesia tahun ini karena tahun ini memang jumlah jemaah Lansia lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar dr. M. Imran. Ym












