Gubes Unair Sebut Pentingnya AI di Industri Pariwisata Halal

Pariwisata halal di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal itu dibuktikan bahwa pada tingkat global, Indonesia menduduki peringkat pertama bersama Malaysia. Selain itu, setelah pulihnya pandemi Covid-19, berbagai sektor seperti pariwisata, resor ramah muslim, hotel, dan restoran akan mengalami pertumbuhan besar di tahun-tahun mendatang. Hal tersebut disampaikan, Prof Dr Ririn Tri Ratnasari SE MSi dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar (gubes) yang berjudul Pengembangan Pariwisata Halal Berbasis Teknologi, Sudah Saatnya Menguatkan Sumber Daya Manusia Melalui Sertifikasi Profesional.

Kegiatan upacara pengukuhan tersebut terlaksana pada Kamis (7/9) di Aula Garuda Mukti, Universitas Airlangga (UNAIR). “Teknologi menjadi salah satu instrumen penting untuk pengembangan wisata halal, misalnya teknologi Artificial Intelligence (AI),” ungkapnya.

Baca juga  KPK Mulai Periksa Kakak Ridwan Kamil di Kasus Korupsi Iklan Bank BJB

Manfaat AI untuk Tingkatkan Wisatawan Prof Ririn menyampaikan bahwa AI mendukung otomatisasi pengembangan pariwisata halal. Pengelolaan pariwisata yang cerdas telah memberikan banyak peluang bagi perusahaan. AI dapat mengembangkan jaringan yang kuat untuk membangun ekosistem dan menghubungkan semua anggota secara dinamis. Selain itu, di masa mendatang, pariwisata juga akan melibatkan teknologi robotik karena wisatawan ingin mendapatkan pengalaman layanan yang lebih tinggi. AI akan membantu wisatawan muslim dalam memilih destinasi dan paket perjalanan yang sesuai dengan pemasaran di situs perusahaan dan jaringan media sosial selama fase perencanaan.

“Wisatawan juga dapat memperoleh data langsung dari alat bertenaga AI seperti chatbots. Chatbots dapat membantu perjalanan Muslim mengenali beberapa hal yang relevan dengan perencanaan perjalanan Islam,” tambah Guru Besar bidang Ilmu Pemasaran Islam tersebut.

Baca juga  MUI Dorong Kemenkeu Bentuk Struktur Pengelola Keuangan Syraiah

Menurutnya, AI memainkan peran penting dalam mengevaluasi dan mengubah sejumlah data besar di media sosial yang akan menjadi informasi yang berguna. AI menawarkan solusi yang kuat untuk wisatawan muslim, seperti analitik media sosial dan kerangka kerja rekomendasi pariwisata untuk informasi. Pentingnya Sertifikasi Profesional Tetapi, sebaik-baiknya teknologi, menurutnya, AI memiliki tantangan tersendiri, salah satunya perihal keamanan data. Selain itu, tantangan lain seperti biaya awal yang tinggi dalam penelitian dan pengembangan, investasi terus-menerus untuk menjaga data selalu update, kebutuhan akan ahli AI dengan biaya tambahan, masalah etika, moral, dan hukum juga perlu dicermati.

“Untuk mengoptimalkan AI, maka butuh dukungan dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu mengelola pariwisata halal berbasis teknologi AI yang ahli dan kompeten,” ujarnya.

Baca juga  Dua Panggung IEF 2026 Dipadati Ribuan Pengunjung

Menurutnya, penguatan SDM profesional dapat dilakukan melalui berbagai sertifikasi professional, khususnya bagi SDM yang bekerja pada sektor pariwisata halal. Saat ini, tidak semua SDM yang bekerja di industri tersebut memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan pekerjaannya, sehingga diperlukan sertifikasi untuk meningkatkan keahlian dan kompetensi.

“Dalam hal ini, Kementerian Pariwisata dapat menyiapkan kurikulum berbasis digital, seperti pemasaran digital, kewirausahaan digital, bahkan pelayanan berbasis digital,” tegas Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR aktif ke-38 tersebut. (Ra/Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *