SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menggelar seminar pendidikan yang diikuti berbagai stakeholder di dunia pendidikan Sekolah Menengah Pertama pada Selasa (20/2) di Hall Mas Mansyur Lt 6 Smamda Tower.
“Kegiatan tahunan ini bertujuan memberikan insight terkait Parenting Membangun Komunikasi Konstruktif di Era Digital,” ungkap Kepala Smamda Ustaz Astajab MM.
Seminar diikuti 110 peserta dengan rincian Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru BK, dan Komite SMP/MTs Negeri dan Swasta se Jawa Timur
Dijelaskan Ustaz Astajab, seminar pendidikan ini merupakan rangkaian acara publikasi dalam rangka memperkenalkan Smamda Surabaya kepada khalayak yang lebih luas.
“Sekaligus bentuk kepedulian Smamda dalam memajukan dunia pendidikan,” sambungnya.
Menariknya, seminar kali ini juga menghadirkan komite SMP. Peranan komite yang dalam hal ini merupakan perwakilan orang tua siswa dalam lingkup sekolah jelas merupakan hal terpenting untuk membangun hubungan tiga pilar. Antara sekolah, guru, dan orang tua. Ketiga pilar ini harus bekerja sama demi membangun masa depan anak menjadi lebih cerah.

Dalam paparannya, Pakar Psikologi Unair Dr Wiwin Hendriani menuturkan, orang tua dan sekolah punya pola komunkasi perilaku anak. Namun sering juga orang tua tidak mengerti bagaimana cara berkomunikasi dengan anaknya ketika anak menginjak usia remaja.
“Nah saat ini kita konsen bagaimana memperbaiki pola komunikasi anak dengan orang tua. Kita sampaikan bahwa pentingnya menjalin komunikasi dua arah. Anak kalau uda remaja, pola pikirnya beda. Untuk itu orang tua harus lebih banyak membuka ruang agar anak juga bisa bersuara berpendapat,” ucapnya.
Diuraikan Wiwin, anak remaja sekarang banyak gerak di luar bersama teman sebayanya. Maka kondisi ini menyebabkan kerap ada jarak dengan orang tuanya sendiri. Apa yang harus dilakukan orang tua?
“Nah bagaimana membangun relasi dengan berbagai cara. Orang tua tetap bisa dekat dengan anak menggunakan bahasa orang tua. Maka orang tua harus mengelola emosi. Orang tua sering mengacaukan pola komunikasi ke anak karena kekawtiran berlebih. Akhirnya orang tua emosi. Ini yang perlu dikelola. Mengelola emosi,” tegasnya. (Ra/Bagus, foto-foto: Bagus)










