Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Kementerian Pertanian (Kementan) RI berkolaborasi mengembangkan benih kedelai unggul melalui pemanfaatan lahan seluas 56 hektare. Kerja sama ini ditujukan untuk mendukung percepatan swasembada kedelai nasional.
Penandatanganan kerja sama disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman saat menghadiri Wisuda ke-121 Unesa di Graha Unesa, Kampus II Lidah Wetan, Surabaya.
“Kita langsung tanda tangan MoU tadi. Kemudian kita tindaklanjuti kedelai. Kedelai punya lahan Unesa 56 hektar. Kami berikan bibit gratis, traktor, roda empat itu gratis. Nanti diolah, dosen-dosen dan tim meneliti,” ujar Mentan Amran, Kamis (13/8).
Ia menargetkan produktivitas lahan tersebut bisa mencapai 4 ton hingga 5 ton per hektar, dengan minimal 3,5 ton per hektar. “Kalau produksinya insyaallah bisa 4 ton, 5 ton, minimal 3,5 ton per hektar, semua bibit yang 56 hektar kami (Kementan) beli,” tambahnya.
Benih unggul hasil produksi Unesa nantinya akan diserap pemerintah dan diperuntukkan bagi masyarakat Jawa Timur guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai.
Dalam skema besar swasembada ini, Kementan juga melibatkan perguruan tinggi lain. IPB fokus pada pengembangan bibit padi dan ITS pada benih jagung.
Mentan Amran menegaskan konsep triple helix antara pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pengusaha, dan akademisi sebagai pencipta inovasi dapat memperkuat swasembada dan ketahanan pangan nasional.
Selain riset dan pengembangan benih, kerja sama ini mencakup program akademik yang melibatkan mahasiswa. Salah satunya melalui program magang berdampak, di mana mahasiswa belajar dan berkolaborasi langsung dengan petani.
“Kita sudah bicarakan, tinggal menunggu pak rektor, yang magang empat bulan itu nanti bobotnya berapa SKS-nya,” kata Amran.
Rektor Unesa, Nurhasan atau Cak Hasan, menyampaikan kesiapan penuh lembaga atas kepercayaan strategis dari Kementan. Sebelumnya, Unesa juga aktif mengawal program pengembangan komoditas pertanian, salah satunya jagung di Jawa Timur.
Saat ini, Unesa tengah memperkuat riset di bidang ketahanan pangan. Pengembangan benih kedelai menjadi fokus utama tim peneliti dengan mengerahkan seluruh sumber daya akademik untuk menghasilkan varietas unggul berproduktivitas tinggi.
“Kami berharap penelitian ini dapat terus berlanjut sehingga memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ketahanan pangan nasional. Ini menjadi pekerjaan rumah sekaligus tantangan besar bagi kami. Kami akan mencari benih yang terbaik agar mampu menghasilkan produktivitas sesuai harapan kita bersama,” tutur Cak Hasan.
Melalui pengembangan benih, dukungan sarana produksi, dan pelibatan mahasiswa di lapangan, kolaborasi Unesa dan Kementan diarahkan mempertemukan riset perguruan tinggi dengan kebutuhan pangan nasional. Skema ini sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam pengembangan komoditas pertanian dan mendukung upaya percepatan swasembada kedelai. Bagus












