Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan pendidikan karakter perlu dibangun sejak dini melalui keterlibatan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media.
“Kami percaya bahwa profil generasi muda yang resilien, hari ini dan juga hari esok, itu sangat tergantung dengan proses pendidikan sejak usia dini,” ujar Fajar Jumat (30/10).
Fajar mengatakan tantangan pembentukan karakter saat ini berkaitan erat dengan perkembangan teknologi digital yang dapat memengaruhi kebiasaan anak, seperti berkurangnya aktivitas fisik, waktu tidur, dan kemampuan fokus.
Untuk merespons itu, Kemendikdasmen mengampanyekan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat.
Ia menekankan pendidikan karakter perlu dibangun secara menyeluruh dengan memadukan kecerdasan intelektual, sosial, dan emosional.
“Cerdas itu tidak hanya dilihat dari kecerdasan intelektual, tetapi juga cerdas secara sosial dan emosional. Itulah fondasi bagi munculnya generasi yang patriotik, gigih, dan berempati,” lanjutnya.
Selain karakter, ada dua aspek lain yang perlu diperkuat, yakni kompetensi dan resiliensi. Kompetensi menjadi bekal menghadapi kebutuhan dunia kerja, sedangkan resiliensi diperlukan agar generasi muda mampu menghadapi tantangan masa depan.
Fajar mengingatkan pendidikan pada hakikatnya adalah proses belajar, bukan sekadar bersekolah. Pembentukan karakter tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah, melainkan perlu ekosistem yang lebih luas.
Sejalan dengan itu, Kemendikdasmen memperkuat keterampilan pedagogis guru melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang menggeser orientasi dari kuantitas materi menjadi pemahaman murid terhadap materi esensial. Bg












