Oleh:
Amirsyah Tambunan
Sekjen ADI
Istilah social enterprise belum populer dan masih membutuhkan literasi, sosialisasi, sehingga bisa berkembang di Indonesia.
Agar istilah social enterprise menjadi tren baru di dalam dunia bisnis, maka diperlukan semangat entrepreneur. Istilah entrepreneur dikenal sebagai pekerjaan yang sangat populer karena dapat menghidupi diri sendiri dari apa yang telah dikembangkan di masyarakat.
Pada dasarnya bisnis tersebut akan menjadi brand terkenal, sehingga menguntungkan pemiliknya sendiri. Keuntungan secara halal dan thoyib dan keuntungan dunia akhirat.
Dewasa ini kebanyakan anak muda termasuk para generasi milenial mengembangkan usahanya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat untuk kehidupan sosial sekitarnya.
Untuk itu social enterprise atau “perusahaan sosial” seperti Ormas adalah sebuah ide bisnis yang menggabungkan antara konsep dasar berdagang yaitu mencari keuntungan dengan kewajiban membantu lingkungan sosial, di mana sebuah perusahaan akan memaksimalkan pendapatannya sejalan dengan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
KELEMAHAN ORMAS
Ada dua kelemahan dalam tubuh ormas; pertama, secara struktur ormas belum memiliki struktur yang menempatkan orang yang memiliki jiwa enterprenur, sehingga Ormas gamang melakukan kerja kerja produktif untuk mencari keuntungan yang halal dan thayib.
Kedua, kelemahan kultur di mana ormas, belum memilk kultur pebisnis, sehingga acap kali ormas membuat program bisnis sering mengalami kegagalan. Kegagalan “keberhasilan yang tertunda”.
KEKUATAN ORMAS
Seperti kita ketahui Ormas punya kekuatan karena memiliki SDM yang banyak harus di latih agar memiliki standar kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha.
Di masa pandemi para pegiat enterpreneur mempunyai kiat-kiat yang jitu untuk bangkit dalam menata ekonomi yg dapat menjadi sumber kekuatan sosial (social capital). Contoh sederhana Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) mengajak masyarakat untuk menghidupkan industri kecil rumah tangga seperti membuat masker, makanan dan minuman siap saji telah mulai tumbuh.
Oleh karena itu diperlukan sinergi antara kekuatan sosial (social enterprise) dengan kekuatan modal sosial (social capital), dengan prinsip bagi hasil.
Hasil keuntungan perusahaan yang halal dan thoyib akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mendanai program sosial yang sudah direncanakan seperti mengentaskan kemiskinan, kebodohan dan keterbelangan. Struktur sosial masyarakat harus di desain, kata buya Anwar Abbas seperti belah ketupat. Memperkuat kelas menengah sehingga dapat menjadi wasit untuk memperkuat struktur ekonomi kelas atas dengan kelas bawah. Saat ini ekonomi kelas atas belum netes kebawah, maka kelas menengah yang mempunyai kesadaran kolektif harus mampu melakukan affirmatif action dalam mengatasi kesenjangan ekonomi masyarakat, sehingga pemulihan ekonomi di masa pandemi dapat dilakukan secara terprogram dan terukur. Bagus










