Bandara Dhoho Kediri direncanakan menjadi salah satu embarkasi haji pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2027 mendatang semakin menguat.
Langkah persiapan kini terus digodok, mulai dari studi banding teknis, pembahasan skema penginapan, hingga kajian infrastruktur penerbangan.
Hal itu disampaikan oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Anim Falachuddin Mahrus (Gus An’im), dalam acara Sosialisasi Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 2027 di Aula IAI Faqih Asy’ari (IAIFA), Kencong, Kepung, Kediri, Kamis (30/7/2026).
“Tahun 2027 direncanakan jemaah dari daerah Mataraman dan sekitarnya akan diberangkatkan melalui Embarkasi Dhoho Kediri. Ini tentu menjadi kabar gembira karena aksesnya jauh lebih dekat dibanding harus ke Surabaya,” kata Gus An’im.
Salah satu poin krusial yang tengah dimatangkan adalah tempat penampungan sementara atau tempat singgah jemaah sebelum terbang.
Gus An’im mendorong bandara Dhoho meniru konsep skema Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dengan memberdayakan hotel-hotel di sekitar bandara.
Pilihan itu disebut lebih menguntungkan karena memberikan kenyamanan ekstra sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah lewat peningkatan okupansi hotel.
Bahkan, Pemerintah Kabupaten Kediri menyatakan kesiapannya untuk mengalokasikan lahan seluas lima hektare guna membangun fasilitas pendukung.
“Konsepnya bukan lagi sekadar asrama haji konvensional, melainkan ‘Hotel Haji’. Saat musim haji digunakan melayani jemaah, dan di luar musim haji bisa dimanfaatkan secara komersial untuk kegiatan lain,” jelas Politisi PKB tersebut.
Dari sisi teknis penerbangan, hasil survei menunjukkan infrastruktur Bandara Dhoho Kediri telah siap didarati oleh pesawat berbadan lebar (wide-body aircraft) yang biasa digunakan untuk operasional haji.
Kemampuan ini memungkinkan armada penerbangan haji dari Kediri terbang langsung (direct flight) menuju Tanah Suci tanpa perlu melakukan transit pengisian bahan bakar, yang dinilai dapat menghemat biaya operasional penerbangan.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Abdul Kholiq Nawawi, menyampaikan bahwa pihaknya bersama Pemkab Kediri dan pengelola bandara telah melakukan studi banding ke Kanwil Kemenag DIY dan YIA Kulon Progo.
“Hasil studi dari Yogyakarta akan kami sinergikan dengan PPIH Jawa Timur. Namun untuk saat ini semuanya masih dalam tahap penyusunan konsep dan kami tetap menunggu keputusan serta regulasi resmi dari pemerintah pusat,” pungkas Kholiq. (Ym)








