Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menciptakan inovasi paving block ramah lingkungan berbahan dasar limbah perikanan. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih medali perunggu (bronze medal) dalam ajang MJIIX International Research and Innovation Competition (MJIIX IRIC) di Kuala Lumpur.
Mereka adalah Chelsea Hani Marcelia Sundawa, Istirarosa Artisa Putra, Ratu Zahra Angelita dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), dan Naila Fatin Afifah dari Fakultas Vokasi.
Kompetisi internasional yang diselenggarakan Malaysia Japan International Institute of Technology (MJIIT) di Universitas Teknologi Malaysia (UTM) itu mempertemukan peserta dari berbagai jenjang, mulai dari S1, S2, S3, hingga praktisi dan dosen se-Asia Tenggara.
Ide inovasi tersebut berawal dari kondisi infrastruktur jalan yang rusak di salah satu daerah di Tuban.
“Kami mengangkat inovasi ini karena melihat kondisi salah satu daerah di Tuban yang jalannya sangat rusak, becek, dan berair. Dari situ kami terpikir untuk membuat paving block yang tidak hanya kuat menahan air dan beban, tetapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah lokal,” ungkap Chelsea, Kamis (8/10/2026).
Paving block tersebut mengombinasikan tepung cangkang kerang kapah dan tulang ikan yang dihaluskan sebagai substitusi parsial semen, serta ditambahkan alginat sebagai bahan perekat. Dengan formula ini, penggunaan semen konvensional dapat berkurang hingga sepertiganya.
Keunggulan lain dari karya tersebut adalah prinsip zero waste dan efisiensi biaya. Bahan baku utama berupa cangkang kerang dan tulang ikan diperoleh secara gratis dari pedagang perikanan di pasar lokal.
Proses pembuatannya dilakukan di laboratorium FPK UNAIR. Bahan baku dicuci bersih, dikeringkan menggunakan oven pada suhu 100°C selama 4 hingga 5 jam, kemudian dihaluskan dan diayak menggunakan ayakan 100 mesh untuk tulang ikan dan 80 mesh untuk cangkang kerang.
“Satu tahapan penting yang kami lakukan adalah proses kalsinasi pada tepung tulang ikan. Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan aroma amis khas ikan, sehingga material paving block yang dihasilkan benar-benar netral dan kokoh seperti semen,” jelas Chelsea.
Dalam uji coba skala laboratorium, paving block inovasi mereka mampu mengering dan mengeras dengan padat dalam waktu sekitar tiga hari.
Chelsea menyebut pengalaman tampil final secara luring di Kuala Lumpur menjadi pengalaman berharga karena bersaing tanpa pembagian kategori strata pendidikan.
“Awalnya tidak menyangka bisa meraih bronze medal. Mengingat lawannya tidak hanya sesama mahasiswa S1, tetapi ada jenjang S2, S3, bahkan dosen dari berbagai negara di Asia. Ini experience luar biasa bagi kami,” tuturnya. Bagus











