Pandemi Corona yang tak kunjung berakhir menimbulkan derita kelaparan dan kemiskinan rakyat indonesia. Di beberapa tempat ditemukan kejadian warga yang terpkasa mencuri karena kelaparan. Sungguh ironi mengingat negeri ini bak lumbung padi dengan kekayaan hayati yang melimpah. Haruskah rakyat indoensia mati di lumbung padi?
Beberapa hari lalu negeri ini tersentak dengan kabar meninggalnya Yuli (43) warga Serang Banten akibat dua hari tidak makan dan hanya minum air galon. Ibu empat anak ini merupakan salah satu imbas dari Covid-19 yang mana tidak lagi memiliki pendapatan.
Sosok Yuli sempat viral setelah menceritakan keluh kesahnya yang hidup serba kekurangan, terlebih selama pandemi virus corona Covid-19. Suami Yuli, Kholid yang bekerja sebagai pemulung sampah hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Sejak Pemprov Banten menetapkan KLB virus corona, sang suami tak lagi mendapatkan penghasilan hingga ia tak memiliki bahan apapun untuk dimasak.
MASALAH KEMISKINAN
Di tempat lain, Atek, lelaki berusia 40 tahun warga Jalan Mawar, Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, Medan, Sumatera Utara, nekat mencuri satu karung beras ukuran 5 kilogram. Dia nekat mencuri beras karena tak memunyai uang untuk membeli, sehingga menderita kelaparan.
Kisah pilu lainnya juga terjadi di Batam. Ason Sopian keliling rumahnya di Batam jual ponsel rusaknya untuk biaya makan 5 anaknya mengurai air mata. HP rusak itu dijual Rp 10 ribu untuk dibelikan beras.
Ason Sopian, seorang ayah dari lima orang anak yang masih kecil-kecil dan hidup dalam keprihatinan. Ason Sopian tak memiliki pekerjaan tetap. Ia pernah bekerja di bengkel, tapi sekarang menganggur.
Kasus yang menimpa almarhumah Yuli, Atek dan Ason Sopian menjadi gambaran nyata betapa rakyat indonesia masih hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Negeri yang tanahnya subur ini tak mampu membuat rakyatnya makmur. Negeri lumbung padi ini masih diselimuti masalah pangan, padahal lebih dari setengah abad telah merdeka. Mungkin sekarang masih ada donatur yang bisa bagi bagi sembako. Namun bagaimana 2-3 bulan ke depan seiring tidak tahunya kapan Corona berakhir? Haruskah rakyat indonesia mengalami kelaparan?.
Ketahanan pangan di tengah Corona ini menjadi perhatia publik. Beberapa daerah mulai sadar dan melakukan gerakan. Misalnya di Desa Margasana, Kecamatan Jatilawang, kabupaten Banyumas Jawa Tengah yang para petaninya dilarang menjual hasil panen untuk mencegah kelaparan di desanya saat wabah virus corona. Hasil panen di desa itu akan dikumpulkan dalam lumbung padi mandiri.
Pengelolaan pangan di sana dibantu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Margasana lewat lumbung padi mandiri itu.
“Pandemi membuat kita sadar untuk saling menjaga, bergotong-royong dan membangun kebudayaan leluhur. Karena kita tidak tahu akan sampai kapan pandemi covid-19 berakhir dan mengarah pada ancaman ketahanan pangan,” kata Kepala Desa Margasana, Dodit Ari Wibowo, Selasa (21/4).
Lumbung desa yang baru dibentuk menjaga konsep ketahanan pangan desa agar dapat terus terjamin. Konsepnya nanti BUMDes membeli gabah petani dengan harga pasaran. Sekitar Rp 480 ribu per satu kuintalnya.
“Karena kita tidak tahu pandemi ini sampai kapan. Jadi kalau ada petani yang panen jangan semuanya dijual, Sementara nanti hal teknis kita timbun dulu, karena menghadapi pandemi covid-19,” jelasnya.
SEMANGAT GOTONG ROYONG
Sementara itu upaya ketahanan pangan juga dilakukan provinsi Jawa Tengah dengan mengusung solidaraitas dan gotong royong. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo akan membuat Satgas Jogo Tonggo di setiap RW. Gerakan ini akan memanfaatkan kekuatan solidaritas masyarakat untuk saling menjaga sesama tetangga.
“Orang desa terbiasa berbagi makanan, gotong royong membangun rumah dan menjaga lingkungn dengan siskamling. Spirit ini kita ambil karena basis kekuatan utama Jawa Tengah adalah desa,” ungkap Ganjar, Rabu (22/4).
Gerakan Jogo Tonggo ini mancakup dua hal. Yakni jaring pengaman sosial dan keamanan berupa sosialisasi, pendataan, dan pemantauan warga. Juga jaring pengaman ekonomi, yang terdiri dua hal. Pertama memastikan tidak ada satupun warga yang kelaparan selama wabah Corona. Kedua, mengusahakan kegiatan ekonomi warga berjalan dengan baik pasca wabah Corona.
Setiap Satgas Jogo Tonggo dipimpin oleh ketua RW dibantu para ketua RT. Satgas ini beranggotakan tim kesehatan, tim ekonomi, dan tim keamanan. Ketua satgas melaporkan kegiatan setiap hari kepada desa atau kelurahan.
Pemerintah seharusnya fokus memastikan berdirinya Dapur Umum dan Lumbung Pangan untuk rakyat, sebelum menetapkan daerahnya sebagai daerah yang akan melaksanakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
Menurut Dendik Rulianto dari Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa Timur beberapa waktu lalu, PSBB bukan semata mendisiplinkan rakyat, tapi juga memastikan rakyat makan karena harus disiplin tinggal di rumah dan tidak bekerja. Kalau tidak maka PSBB akan membawa masalah baru yang lebih besar dan sulit dikendalikan.
“Pangan merupakan soal hidupnya suatu bangsa, apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi, maka malapetaka. Oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran ,radikal dan revolusioner,” tegasnya.
Dendik Rulianto mengingatkan, urusan pangan adalah kunci utama suatu bangsa ,dimana ketika suatu bangsa mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya, maka akan bisa dipastikan rakyatnya akan hidup tentram, begitu pula jika negara tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya, maka peradaban negara akan menuju sebuah kehancuran.
“Di beberapa daerah kejahatan sudah mulai meningkat. Jangan terlambat membangun dapur umum dan lumbung rakyat,” tegasnya.
KESADARAN KOLEKTIF
Ia menjelaskan, lumbung pangan sendiri merupakan sarana/tempat penyimpanan bahan pangan bagi masyarakat desa yang akan dimanfaatkan pada saast paceklik/rawan pangan akibat pandemik melanda. Dendi menegaskan bahwa menghadapi situasi pandemik corona ini dibutuhkan kesadaran kolektif dan kerjasama semua rakyat desa untuk mencegah penyebaran hingga saling bantu antar rakyat desa.
“Skema rakyat membantu rakyat dalam pangan harus diaktifkan segera mungkin, sehingga tidak akan terjadi situasi rakyat desa yang mengantri bantuan pangan dan juga kelaparan,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah juga diharapkan berperan lebih untuk memastikan kelangsungan hidup warganya. Jangan sampai rakayat yang hidup di negeri yang memiliki kekayaan alam melimpah ini harus mati karena kemiskinan dan kelaparan. Dan semoga saja wabah Corona segera berakhir sehingga perekonomian rakyat kembali membaik. 01/ym











